Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Berfirman Allah Ta’ala: Apabila Aku menimpakan bala ke atas hamba-Ku yang mu’min, lalu ia bersabar (atas penderitaan itu), tiada ia mengadu atau mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya, niscaya akan Aku lepaskan dia dari tahanan-Ku (penderitaan itu), kemudian Aku tukarkan dagingnya dengan daging yang lebih baik, dan darahnya dengan darah yang lebih baik, sehingga ia dapat bekerja semula (yakni: setelah semua dosa dan kesalahan yang lalu Allah ampunkan semuanya)”. (HR. Al Hakim)
Dilihat dari sisi perjalanan manusia menuju akhirat, maka ada 6 macam manusia yaitu :
ABID(ahli ibadah) : orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah. ia tidak mempunyai kesibukan lainnya, dan menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah dan majelis-majelis zikir.
ALIM(orang berilmu) : orang yang ilmunya dapat dimanfaatkan oleh kaum muslim, baik berupa fatwa, pengajaran yang disampaikannya, maupun karya yang ditulisnya. ilmu yang dimaksum adalah ilmu yang bisa membuat orang menyukai akhirat, menjadi zuhud dunia, atau membantunya meniti jalan akhirat. bukan ilmu untuk memperoleh jabatan atau mengejar popularitas.
MUTA'ALLIM(pelajar) : orang yang meniatkan belajarnya untuk ridha Allah swt. setiap harinya mempunyai kesibukan wirid atau zikir, karena akan lebih memudahkannya untuk menggapai semua yang dicita-citakannya.
MUHTARIF(pekerja) : Orang yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. wirid yang dilakukannya adalah dengan mendatangi tempat usaha dan mengerjakan dengan serius profesinya. tapì tetap tidak boleh lupa mengingat Allah di dalam hatinya pada saat menjalani profesinya, bahkan tidak henti-hentinya melafalkan takbir, zikir dan membaca Al-Qur'an.
WALI(pengusa) : orang yang memegang jabatan publik yang langsung akan dirasakan umat islam. kewajiban yang dilakukannya di siang hari adalah mengurusi urusan publik, lalu di malam harinya, baru ia mengerjakan kesibukan wiridnya.
MUWAHHID MUSTAGHRIQ(orang yang bertauhid) : Orang yang menenggelamkan diri bersama Tuhannya. ia hanya menginginkan Allah dan hanya takut pada-NYA. Wiridnya hanya satu yaitu memfokuskan hati bersama Allah dalam kondisi apapun. tidak ada lagi sesuatu yang memperdaya hatinya, tidak tergerak sedikitpun kemaksiatan di dalam hatinya, dan tidak ada dorongan jahat yang datang tiba-tiba menyerangnya.